Meraih Impian
Sinar purnama mulai tersenyum dan
menerangi malam. Saat itu Nanda diam memikirkan suatu hal. Lamunannya terusik
saat terngiang sebaris kata ayahnya yang selalu berulang menelusup ke
telinganya. “Nanda, kamu pasti bisa!” Kata-kata ayahnya laksana dentuman meriam
yang bergemuruh di rongga dadanya. Setiap Nanda mengingat setiap kata-kata itu,
semakin berat pula beban yang dia rasakan. Terlebih, urutannya sebagai sulung
dari lima bersaudara. Menjadikannya sebagai sosok yang sangat berat untuk
menjadi seorang sulung. Dia pun merasakan pula beban kedua orang tuanya yang
semakin menjadi dan bertambah. Ayahnya , di luar segala kewajibannya sebagai
PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi. Jadi tidak
mengherankan jika bundanya terpaksa ikut turun tangan untuk menopang keuangan
keluarga dngan membuka sebuah warung kecil-kecilan.
Padatnya aktivitas kedua orang tuanya masih terekam kuat dalam benak Nanda. Kerja keras seakan menjadi menu wajib dan merupakan keseharian bagi Nanda. Namun, ada hal yang menjadi titik lemah baginya. Dua kali sudah tangisan Nanda pecah ketika cita-citanya tak tersampaikan. Pertama, ketika ia gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Masih teringat kata-kata bundanya yang menelusup di telinga Nanda.
“ Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas kedokteran. Sabar ya nak!”, ucap bundanya yang terlihat begitu lembut, namun tetap pasti. Kedua, ketika Nanda gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badannya yang masih kurang. Kegagalan itu tentu saja membuatnya terluka. Ayah dan bundanya tiada putus-putusnya membangkitkan semangat Nanda hingga kedua kakinya benar-benar mampu berpijak. Nanda percaya , akan ada pelangi setelah hujan yang begitu deras.
Dan untuk mengobati luka hati Nanda yang masih tergores akibat semua itu, Nanda pun mulai bangkit. Dia memutuskan untuk membantu bundanya menjaga warung. Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit Nanda memulai proses belajar. Ya, ia belajar dari ketegaran bundanya dalam menghadapi kesulitan hidup. Bundanya sering tidur larut malam karena harus menyambung potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual. Bed cover tersebut dititipkan di sebuah toko swalayan. Nanda tak pernah berhenti untuk terus memanjatkan doa kepada sang khalik agar bundanya senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan batin.
Dan akhirnya, salah satu doa mulia Nanda terkabul. Suatu hari ayah Nanda memutuskan untuk berhenti bekerja dan berorganisasi. Suatu keputusan yang sangat berat yang harus diambil oleh ayahnya. Ayahnya mulai membuka peluang dengan melirik dunia usaha. Sebagai langkah awal, ia mulai melahap buku-buku dari sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang Gumilang. Nanda akhirnya terinspirasi dari aktivitas terbaru ayahnya itu. Benih pohon bisnis mulai tumbuh dalam diri Nanda, terlebih setelah dia menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.
Dua kegagalannya yang lalu telah berakhir ketika Nanda diterima di jurusan Bahasa Inggris. Nanda menekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Berbagai kendala finansial mendorongnya untuk merambah dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupu nanda, datang kepadanya.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Mereka mulai berbisnis pakaian. Tak disangka, usaha itu mulai menuai hasil yang gemilang. Setelah bisnis Nanda mulai merambat pesat, bundanya berkunjung ke toko Nanda dan bundanya memuji, “Wah, ternyata Nanda sudah meraup banyak untung nih”.
Kesibukan berbisnis tidak melemahkan prestasi Nanda di ranah akademis. Nanda berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang sangat memukau.
Seiring waktu yang berjalan, jaringan bisnisnya pun meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah Nanda sebagai motivator mendorong Nanda untuk membantu ayahnya.Jadilah ia berkiprah dalam dunia event organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat pun ia lakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini.
Namun, kesuksesan yang ia dapatkan saat ini tak patut membuat Nanda menjadi pribadi yang angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya ia dapat meraih semuanya. Tidak luput bimbingan dan motivasi dari kedua orang tua Nanda yang turut membuatnya tegar dalam berbagai kesulitan.
Padatnya aktivitas kedua orang tuanya masih terekam kuat dalam benak Nanda. Kerja keras seakan menjadi menu wajib dan merupakan keseharian bagi Nanda. Namun, ada hal yang menjadi titik lemah baginya. Dua kali sudah tangisan Nanda pecah ketika cita-citanya tak tersampaikan. Pertama, ketika ia gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Masih teringat kata-kata bundanya yang menelusup di telinga Nanda.
“ Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas kedokteran. Sabar ya nak!”, ucap bundanya yang terlihat begitu lembut, namun tetap pasti. Kedua, ketika Nanda gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badannya yang masih kurang. Kegagalan itu tentu saja membuatnya terluka. Ayah dan bundanya tiada putus-putusnya membangkitkan semangat Nanda hingga kedua kakinya benar-benar mampu berpijak. Nanda percaya , akan ada pelangi setelah hujan yang begitu deras.
Dan untuk mengobati luka hati Nanda yang masih tergores akibat semua itu, Nanda pun mulai bangkit. Dia memutuskan untuk membantu bundanya menjaga warung. Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit Nanda memulai proses belajar. Ya, ia belajar dari ketegaran bundanya dalam menghadapi kesulitan hidup. Bundanya sering tidur larut malam karena harus menyambung potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual. Bed cover tersebut dititipkan di sebuah toko swalayan. Nanda tak pernah berhenti untuk terus memanjatkan doa kepada sang khalik agar bundanya senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan batin.
Dan akhirnya, salah satu doa mulia Nanda terkabul. Suatu hari ayah Nanda memutuskan untuk berhenti bekerja dan berorganisasi. Suatu keputusan yang sangat berat yang harus diambil oleh ayahnya. Ayahnya mulai membuka peluang dengan melirik dunia usaha. Sebagai langkah awal, ia mulai melahap buku-buku dari sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang Gumilang. Nanda akhirnya terinspirasi dari aktivitas terbaru ayahnya itu. Benih pohon bisnis mulai tumbuh dalam diri Nanda, terlebih setelah dia menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.
Dua kegagalannya yang lalu telah berakhir ketika Nanda diterima di jurusan Bahasa Inggris. Nanda menekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Berbagai kendala finansial mendorongnya untuk merambah dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupu nanda, datang kepadanya.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Mereka mulai berbisnis pakaian. Tak disangka, usaha itu mulai menuai hasil yang gemilang. Setelah bisnis Nanda mulai merambat pesat, bundanya berkunjung ke toko Nanda dan bundanya memuji, “Wah, ternyata Nanda sudah meraup banyak untung nih”.
Kesibukan berbisnis tidak melemahkan prestasi Nanda di ranah akademis. Nanda berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang sangat memukau.
Seiring waktu yang berjalan, jaringan bisnisnya pun meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah Nanda sebagai motivator mendorong Nanda untuk membantu ayahnya.Jadilah ia berkiprah dalam dunia event organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat pun ia lakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini.
Namun, kesuksesan yang ia dapatkan saat ini tak patut membuat Nanda menjadi pribadi yang angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya ia dapat meraih semuanya. Tidak luput bimbingan dan motivasi dari kedua orang tua Nanda yang turut membuatnya tegar dalam berbagai kesulitan.